![]() |
| gambar dibuat dengan AI |
Acap kali merasa waktu begitu cepat berlalu, kemarin baru habis Ramadhan eeeh gak terasa mau Ramadhan lagi, seperti itulah kira-kira. Benar sekali... "Demi masa.. manusia dalam kerugian.. kecuali orang yang beriman, dan mengerjakan kebajikan, saling menasehati untuk kebenaran dan saling menasehati untuk kesabaran. Ya manusia sangat merugi bahkan dalam hal waktu.
Benar sangat tidak berarti segalanya jika sesuatu bukanlah untuk Nya. Jika segala hal dilakukan hanya karena urusan dunia semata. Jabatan, harta ataupun status sosial. Jabatan jika bukan karena Nya maka akan banyak sekali kekacauan yang akan terjadi, kita bisa lihat bagaimana kondisi di banyak tempat. Sudah menjadi rahasia umum, terkadang jabatan hanya dijadikan alat untuk mengeruk keuntungan.
Lupa tujuan awal dalam mengejar jabatan. Ketika suguhan istimewa lebih menggiurkan. Jarang yang bisa menolak dengan tawaran yang sangat menggiurkan itu. Kemewahan dan seterusnya.
Pun demikian dalam hal harta. Bahkan orang mukmin sangat dianjurkan untuk menjadi kaya, agar apa? Agar yang kaya berbagi kepada yang tak punya, agar kekayaan yang dititipkan Sang Pemilik dapat dipergunakan sesuai anjuran Sang Kekasih. Para sahabat nabi itu sebagian besar mereka adalah orang kaya. Tapi kekayaannya bukan untuk bermewah-mewahan dan berfoya-foya, semua hartanya untuk keperluan dan kepentingan agama.
Jika kita berkaca dengan kehidupan masa kini, tentu sangat jauh sekali berbeda. Kita bahkan sering berlomba-lomba dalam mengumpulkan harta. Meski sering kita sadar, kita di dunia ini hanya sebentar saja. Seperti seorang pengembara yang berkelana, hanya singgah sebentar. Tentu sangat jelas, segala hal yang kita lakukan akan dipertanggungjawabkan.
Kita sadar, hidup yang abadi itu hanyalah akhirat. Surga atau neraka, ke sanalah tujuan kita. Maka jika segala sesuatu bukan karena Nya kita lakukan, rasanya hanya akan sia-sia. Jabatan jika bukan untuk kemaslahatan agama dan jauh dari suri teladan yang diajarkan nabi-Nya. Maka untuk apa. Apakah itu jabatan di sebuah perusahaan, organisasi, politik, komunitas ataupun gerakan lainnya. Maka kewajiban kita adalah menerapkan nilai-nilai Islam itu sendiri.
Harta, demikian juga. Jika kita cara yang digunakan untuk mendapatkan harta adalah cara yang tidak sesuai dengan nilai-nilai norma dan ajaran agama, maka untuk apa kita punya harta tapi tak berkah. Bisa jadi banyak yang terjebak karena kurangnya pengetahuan, contoh, menakar timbangan jika kita sebagai seorang pedagang, jelas larangan dalam hal mengurangi takaran timbangan itu. Jangan asal untung saja yang dipikirkan yaaa.
Bahkan dalam berbagai kasus akad pun, bisa jatuh dalam hal riba, jika kita tidak hati-hati mengambil langkah. Tidak melulu riba itu dalam bentuk yang nyata jelas. Dalam akad yang tak sesuai pun bisa jatuh riba. Betapa banyak mungkin kelalaian kita, tak hanya soal lalai akan waktu. Tapi juga lalai yang sesungguhnya, lupa pada-Nya. Terlalu sibuk mengejar dunia dan mengurus urusan dunia, memisahkan urusan dunia dengan agama.
Padahal urusan dunia memang harus dilandaskan dengan agama. Agar semua bernilai ibadah, baik dalam niat ataupun praktek nya. Maka setiap waktu akan bernilai ibadah. Tak hanya ritual saja yang menjadi nilai ibadah. Demi masa kita dalam kerugian. Kecuali orang beriman dan mengerjakan amal kebajikan.
Waktu begitu cepat berlalu. Bahkan begitu banyak kabar yang datang silih berganti yang dipanggil pulang. Tak terasa usia setiap kita pun bukan lagi usia remaja. Apa yang sudah kita persiapkan untuk bekal kelak nanti. Kita benar-benar hanya sebentar saja di dunia ini.


