Menulis dan Budaya Komentar

Admin
0

Di zaman media sosial ini, memang sangat mudah sekali rasanya terpancing untuk berkomentar pada hal yang mungkin sangat bertentangan dengan hal yang kita sukai, contoh saja misalnya banyak isu dan info kekinian yang selalu kita soroti dan terporoti. Ya lumrah sih, media sosial kini memang sudah beralih fungsi untuk adu jotos pikiran dan pandangan. Banyak juga yang tersulut api emosi hingga pertengkaran di media sosial.

Menahan diri untuk tidak memberikan pandangan pun sulit rasanya untuk dilakukan, ketika ada nilai ataupun hal prinsip yang tak sesuai. Berkomentar, siapapun itu maka boleh dan silahkan saja, namun biasanya kita para pengguna sosmed akan mudah tersulut ketika adu koment yang berbeda, saling balas komentar, walau di saat balasan komentar kita biasa saja, tapi orang yang baca mungkin langsung hipertensi, heehehe.

Itulah sosmed zaman now, apalagi kalau sudah berbicara dengan politik, maka ini rawan perdebatan, juga hal tentang perbedaan aliran pengajian, ini juga biasanya akan terjadi pro kontra. Wajar sih pro kontra, karena manusia punya pola pikir yang berbeda, walau terkadang sama. Namun tetap akan bertemu bedanya. Ya itu wajar. Kontroversi pendapat itu wajar. Nah, yang sering terlupakan oleh kita adalah, memaksakan pandangan kita kepada orang lain, saya kira di dalam berkomentar maka itu akan sulit sekali pandangan kita diterima semua kalangan.

Nah, ada satu cara agar pandangan kita mudah diterima orang lain, cara itu simple dan mudah sekali, apalagi buat kamu-kamu yang sudah sangat fasih berbicara. Ini jauh akan sangat membantu, apa itu caranya? MENULIS, dengan menulis sebenarnya kita sedang menggiring pikiran pembaca untuk mendengarkan apa yang kita tulis. Nah, jikapun pro kontra terjadi pada tulisan, misalnya, maka cara terbaik adalah membalas dengan tulisan juga, ini cara yang sudah diajarkan para penulis terdahulu.

Berkomentar itu memang asik, sambil mengasah seberapa jauh pandangan dan perbedaan yang ada. Karena sejatinya perbedaan itu alamiah, nah menyatukan pandangan ini yang perlu adanya nilai yang dibawa. Namun biasanya, karena ego lebih tinggi dari segalanya, maka sebuah nilai pun tidak akan dianggap, ya karna itu tadi, memenangkan argumen masing-masing. Itu sah-sah saja, asalkan jangan nyeleneh dalam adu komentar, apalagi hanya selalu beranggapan, selagi masih satu jalur dengan misi kami, selagi itu kamu saya benarkan, wah kebalik dunia nanti.

Yang benar itu adalah, selagi kebenaran yang disampaikan, maka selagi itu saya akan satu jalur. Jangan dibalikkan, karena nanti akan membuahkan banyak kesalahan. Apa sih maksudnya? Ya, lihat saja dengan kondisi saat ini, selagi masih "dia" yang bicara, maka selama itu benar, gawat kan. Apalagi jelas-jelas salah namun, tetap dibenarkan. Di dalam politik sangat sering juga hal ini terjadi, akal kita dipermainkan. Maka kita kudu perlu ada dasar yang kuat menelaah benar dan salah. Jangan sampai, karena dia maka semua menjadi benar.

Di sini, adu komentar tidak akan berhenti. Dunia komentar itu memang sering menimbulkan pro dan kontra, berbeda jauh dengan dunia menulis, menulis membuat kita seperti memiliki titah raja. Komentar hanya akan bersifat sementara, terus hlang, menulis sifatnya permanen dan abadi, dan yang paling penting bisa menembus ribuan otak para pemikir. Ya, menahan diri, itu saja caranya, kemudian tulis saja.

Posting Komentar

0Komentar
Posting Komentar (0)