Memaknai Moment atau Hanya Sekedar Kegiatan?

Admin
0

Kegiatan bakar ayam (foto: steemit.com)
Sembilan menit lagi tanggal 1 Januari akan berakhir dan tanggal 2 Januari akan menghampiri. Catatan ini saya tulis tepat pada pukul 23:51 WIB. Banyak yang ingin saya tulis pada catatan kali ini. Namun kita mulai saja dengan hal yang sederhana saja terlebih dahulu.

Yap, pergantian tahun baru Masehi masih menjadi problema antara pro dan kontra perayaannya. Sebagian ada yang ingin merayakan pergantian tahun baru Masehi dengan berbagai acara. Entah itu bakar jagung sambil ngumpul bersama keluarga, tetangga ataupun bakar ayam dan bakar-bakar lainnya. Tak jarang sebagian mereka juga dipenghujung waktu akan menghidupkan kembang api, yang tak jarang letusan kembang api itu mengeluarkan suara seperti meriam.

Ada juga yang mengatakan, anti tahun baru Masehi tapi dirumahnya ada kalender Masehi, di hp nya ada kalender Masehi. Tunggu. Kita berhenti sejenak untuk menganalisa arti kalimat ini. Saya akan artikan kalimat ini, tentunya berdasarkan kata-kata yang digunakan. Anti tahun baru Masehi. Jika menggunakan kalimat ini, maka tentu akan ambigu. Apakah ada manusia yang bisa anti dengan tahun baru Masehi? Saya kira tidak ada. Karena memang yang namanya tahun pasti akan berganti terus seiring waktu berjalan.

Mungkin kata yang lebih tepat adalah, anti perayaan pergantian tahun baru Masehi. Nah, ini baru kalimat yang pas. Tidak ambigu. Sebagian kita pasti ada yang pro dengan perayaan pergantian tahun baru Masehi dan sebagian juga anti akan kegiatan tersebut. Tidak semua orang merayakan pergantian tahun baru Masehi. Mungkin jumlahnya tidak banyak, tapi pasti ada yang tau merayakan pergantian tahun baru ini.

Kita kembali pada bakar-bakar ayam ataupun jagung tadi. Ada ungkapan, tidak menabuh lonceng seperti Nasrani. Tidak meniup terompet seperti Yahudi. Tidak membakar kembang api seperti Majusi memuja api. Dan sebuah hadits, "barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk golongan mereka." (HR. Ahmad). Terdengar sederhana, tidak meniup terompet, tidak menabuh lonceng, dan juga tidak membakar kembang api. Hanya pada tiga poin saja. Sehingga ada yang beranggapan, kalau bakar-bakar jagung, ayam ataupun kegiatan lainnya, seperti, keluar nongkrong lihat pertunjukan pergantian tahun baru maka sah sah saja.

Kalau saya melihat, ini sama saja dalam rangka merayakan pergantian tahun baru Masehi. Apapun jenis kegiatannya, namun momentnya adalah pergantian tahun baru. Padahal jika ingin bakar jagung, ayam dan lainnya, gak mesti di pergantian tahun baru. Itu nalar saya ya, kalau yang lain punya pendapat berbeda ya silahkan saja. Momentumnya itu yang saya garis bawahi. Jika ingin merayakan moment, sepertinya pergantian tahun hijriyah lebih seru deh, sebagai orang yang telah memahami ilmu agama. Hehehe. Momentnya itu yang saya garis bawahi. Terlepas niatnya apa, tetap saja momentnya pergantian tahun baru.

Ya, sah sah saja sih, jika ada yang ingin merayakan, itu hak masing-masing. Kembali pada pemahaman diri pribadi. Pun juga terkait target-target yang hendak dicapai, tidak mesti selalu diikrarkan saat pergantian tahun baru ataupun sebelum tahun baru. Target bisa saja kapan saja kita azzamkan kembali. Apapun itu targetnya. Entah itu moment idul fitri, Ramadhan, tahun baru hijriyah ataupun hari-hari biasa. Apapun targetnya kan gak mesti diazzamkan saat moment pergantian tahun. Bisa kapan saja.

Jika kemaren, teman-teman melihat dan membaca artikel saya di UC News mengenai kenangan tahun 2018 dan harapan 2019, jangan salah sangka dulu yak!, itu artikel saya buat karena merupakan tema rekomendasi tim UC. Bukan sebagai momen untuk merayakan pergantian tahun baru, heheehe. Jika saya tidak menulis, bisa turun rating saya. Hahaha. Ya sudah, segitu aja dulu, catatan hari ini. Walaupun masih banyak catatan yang ingin saya buat tengah malam ini.


Wonogiri, Jateng

Tags

Posting Komentar

0Komentar
Posting Komentar (0)